Enlightening ourselves

arief gaffar

Keledai dan excuse September 30, 2006

Filed under: Hikmah — ariefgaffar @ 10:40 am

Ketika Anda sedang sebal karena dikritik habis-habisan oleh orang lain, mungkin ada bagusnya mendengar kisah tentang keledai dari negeri seberang. Mudah-mudahan menjadi cukup terhibur.

Adalah seorang Ayah dan putranya bepergian jauh menuju suatu tempat dengan membawa seekor keledai. Sang Ayah merasa sangat pusing karena ketika:

  • Sang Ayah menuntun keledai dan sang anak naik diatas keledai, orang berkomentar betapa kurang ajarnya sang Anak karena Sang Ayah dibiarkan berjalan kaki.
  • Sang Ayah duduk diatas keledai sementara sang anak menuntun, orang berkomentar betapa kurang ajarnya sang Ayah karena membiarkan sang anak berjalan kaki;
  • Sang Ayah dan sang anak bersama-sama menaiki keledai, orang berkomentar betapa keterlaluannya mereka karena keledai yang berbadan kecil harus menanggung 2 orang yang tak tahu diri diatasnya;
  • Sang Ayah dan sang anak berjalan bersama sambil menuntun keledai, orang pun berkomentar betapa bodohnya mereka karena membawa keledai tapi tidak dimanfaatkan.

Apalagi jika sang Ayah dan sang Anak bergotongroyong menggendong keledai.. apa lagi komentar mereka?

Walau cerita tersebut dapat mengurangi rasa kesal karena dikritik pedas. Namun kita harus hati-hati jangan sampai kritik pedas itu memang kritik yang pantas untuk kita karena kita telah melakukan kelalaian tertentu misalnya.

Pada situasi tersebut, maka kita hanya akan menjadikan cerita keledai itu sebagai alat bertahan atas kelalaian yang kita buat. Kita lalu bisa bilang kepada orang lain bahwa: Gitulah kalau orang gak bener selalu ada bahan untuk mencerca kita dan tidak akan habis-habisnya.

Dan kita mungkin sudah jauh lebih hebat lagi.. kita sudah pandai memanfaatkan ayat suci untuk melakukan excuse dan bahkan lebih agresif lagi untuk menyerang orang lain.

Membutuhkan kejujuran, latihan dan ketekunan agar kita dapat melihat dengan jernih pokok persoalannya. Apakah memang kritik itu benar atau sekedar mengada-ada. Memanfaatkan cerita keledai apalagi ayat suci untuk menutupi kesalahan dan tidak mau mendengar kritik akan menjadikan kita jatuh di lubang yang sama berkali-kali dan itu berarti kita sudah menjadi super keledai..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s