Enlightening ourselves

arief gaffar

detikInet.com: Wawancara Eksklusif Kemal Stamboel (1): ‘Indonesia Tidak Hanya Pembajak Software’ November 20, 2006

Filed under: Berita,Teknologi Informasi — ariefgaffar @ 12:00 am

Senin , 20/11/2006 18:53 WIB

Wawancara Eksklusif Kemal Stamboel (1)
‘Indonesia Tidak Hanya Pembajak Software’

Ni Ketut Susrini – detikInet

Jakarta, Kemal Stamboel, Wakil Ketua Harian Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas) meluangkan waktunya untuk diwawancarai detikINET. Ditemui di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2006), Kemal banyak bicara soal visi dan misinya dalam mengoptimalkan pemanfaatan TIK di tanah air, terkait posisinya di Dewan TIK Nasional.

Kemal banyak menyoroti pengimplementasian software open source (sumber terbuka) dan software proprietary (sumber tertutup), dalam perannya menekan pembajakan dan mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana tanggapan bapak tentang tingginya angka pembajakan di Indonesia?

Selama ini kita sering dipojokkan sebagai negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Dilihat dari angka hasil risetnya memang iya. Tapi masalah terbesarnya bukan itu. Penting bagi kita untuk punya gambaran tentang berapa besar belanja ICT kita. Angkanya pasti besar. Perusahaan-perusahaan besar di sini pasti punya anggaran yang besar untuk ICT.

Akan salah sekali kalau Indonesia dipersepsikan hanya sebagai negara pembajak lisensi. Karena penggunaan ICT kita besar. Tapi itu tidak pernah ditonjolkan. Kita pantas berbangga, karena ada bagian dari industri kita yang sudah mengikuti standar licensing yang benar, sesuai standar internasional.

Kita Terlepas dari priority watch list negara-negara pembajak. Tanggapan bapak?

Kita bersyukur sudah terlepas dari priority watch list. Tapi apa itu membuat kita senang? Sementara Iya, karena itu meningkatkan kedudukan kita dibandingkan negara lain menjadi lebih baik. Ini sebuah langkah. Sekarang tinggal bagaimana membuat diri kita lebih pintar dalam memanfaatkan teknologi.

Apa strategi DeTIKNas dalam menyikapi pembajakan?

Perusahaan-perusahaan software proprietary ada di sini untuk berbisnis. Kita juga bisa bicara bisnis. Kalau mereka ingin dipakai di sini, harusnya harganya bisa tidak setinggi itu, tapi harus lebih rendah.

Di sisi lain, kita juga punya Open Source. Kita seharusnya dengan bangga dan dengan percaya diri mulai membangun local based solutions. Kita sepakat dan akan meneruskan IGOS karena kita anggap itu sebuah proses untuk membangun kemampuan jangka panjang kita. Tapi kita tidak akan berleha-leha untuk sekadar menggantungkan harapan kita di satu solusi.

Kalau kita bilang kita tidak mau pakai proprietary, dan akan membuat sendiri apa yang kita perlukan, maka menurut saya ini tidak smart. Saya tidak mengatakan ini bodoh, hanya saja tidak pintar. Pintar dalam arti pemanfaatan teknologi. Misalnya Microsoft, mereka sudah menginvestasikan miliaran dolar untuk riset. Sayang, kalau hasil risetnya tidak kita manfaatkan dengan optimal.

Jadi DeTIKNas akan mendorong yang mana?

Dewan akan mendorong dua-duanya dalam level yang sama. Dengan IGOS, kita sudah menetapkan posisi kita dalam Open Source. Tapi kita perlu perhatikan soal delivery, statusnya dan perkembangannya. Kita perlu sadari, kunci pengembangan IGOS ada pada delivery.

Pengembangan Open Source itu bagus, tapi kita harus mengerti kompleksitas, kedalaman skill dan kompetensi yang perlu dimasukkan dalam solusi ini. Di satu sisi mereka (kelompok proprietary) menginvestasikan miliaran dolar dalam riset, tapi untuk Open Source, kita bisa menginvestasikan seratus juta dolar saja kita sudah senang. Pasti berbeda hasilnya.

Di Open Source kita memiliki orang-orang dengan idealisme tinggi, motivasi tinggi, mereka tahu kalau mereka pintar. Tapi tidak bisa bahwa seolah-olah Open Source harus bisa diterima semua pihak, yang mengharapkan kemudahan teknologi, ketersediaan dan support. Akibat pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan, masyarakat menjadi makin pintar, lalu mereka meminta lebih. Kita tidak bisa memberi solusi yang tidak sempurna ke masyarakat.

Kelompok proprietary juga punya kewajiban, yaitu membangun masyarakat yang lebih pintar dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi yang mereka kembangkan, yang sudah kita bayar melalui lisensi.

Peran DeTIKNas dalam membantu proses delivery?

Sekarang masalahnya adalah memberi wadah supaya mereka bisa berkembang. Kita punya menterinya, kita tentunya punya anggaran. Apakah anggarannya sudah digunakan dengan benar untuk mengejar ini? Apakah dananya cukup? Kalau kurang, kita cari cara lain. Tapi bagi komunitas, mereka harus lari lebih cepat dalam pemanfaatan teknologi. Caranya? dengan memanfaatkan apa yang sudah ada.

Terhadap perusahaan proprietary, kita punya tuntutan agar mereka investasi sebanyak mungkin di Indonesia untuk membangun kapasitas dan dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Jika kita ingin mengoptimalisasi model proprietary, saya yakin ada konvergensi dan ada pergerakan dari proprietary ke Open Source. Artinya knowledge dari proprietary akan diserap ke Open Source. Daripada kita “memulai” sesuatu dari awal, itu perlu waktu, dan sulit berkompetisi dengan proprietary yang punya dana riset miliaran dolar.

Di kalangan komunitas, ada pandangan bahwa kita akan cenderung tergantung pada bangsa lain jika memakai produk proprietary. Menurut Anda?

Sejujurnya, saya melihat itu tidak ada kaitannya. Dalam kenyataannya, mengemas teknologi dalam format yang mengandalkan emosi itu tidak baik. Teknologi adalah soal rasional, tidak ada kaitannya dengan aspek emosional. Peran teknologi adalah untuk memecahkan masalah. Jadi teknologi apapun yang mampu meringankan masalah akan mendapat perhatian. Sesederhana itu. Itu yang masyarakat lihat. Masalah ketergantungan, menurut saya harus diukur dengan realitas. Saya pikir kita tidak mungkin independen dengan produk proprietary, karena mereka sudah lebih dulu mulai.

Kita harus berpikir rasional saja, dan mengurangi emosional. Open Source atau proprietary baiknya jalan beriringan sebagai alternatif solusi. Tapi cara memandangnya bukan seperti memandang agama. Sekali pake Linux misalnya, yang lain jadi tidak berarti. Saya kira kita harus lebih balance. Jika kita bisa menemukan teknologi yang bisa memberi harga lebih murah, lebih reliable dan memberi solusi dengan cepat, maka itu yang kita pakai. Tapi kita tidak pernah pilih solusi karena solusi itu dapat meningkatkan kebanggaan kita sebagai bangsa. Saya rasa, realitasnya tidak begitu.

Yang penting sudah saatnya kita tonjolkan delivery result, dan jangan takut menjualnya. Di basis Open Source, kalau tidak punya commercial outcome, maka tidak pernah jalan. Teknologi adalah suatu komoditas yang bisa menghasilkan nilai. Dan nilai berarti uang. (nks/nks)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s