Enlightening ourselves

arief gaffar

detikInet.com: Wawancara Eksklusif Kemal Stamboel (2): Indonesia Perlu ‘Kerumunan’ Teknologi yang Tertata November 21, 2006

Filed under: Berita,Teknologi Informasi — ariefgaffar @ 12:00 am

Selasa , 21/11/2006 16:15 WIB

Wawancara Eksklusif Kemal Stamboel (2)
Indonesia Perlu ‘Kerumunan’ Teknologi yang Tertata

Ni Ketut Susrini – detikInet

Jakarta, Kemal Stamboel, Wakil Ketua Harian Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas) meluangkan waktunya untuk diwawancarai detikINET. Ditemui di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2006), Kemal banyak bicara soal optimalisasi pemanfaatan TIK di tanah air, terkait posisinya di Dewan TIK Nasional.

Selain banyak menyoroti pengimplementasian software Open Source dan proprietary, Kemal juga mengomentari kegiatan komunitas teknologi di Indonesia, yang menurutnya perlu penataan agar lebih dinamis. Berikut petikan wawancaranya:

Apa target dewan yang akan direalisasikan dalam waktu dekat?

Menurut saya, yang perlu direalisasikan adalah keputusan-keputusan mengenai flagship program, seperti Palapa Ring Project, Nasional Single Window, Nomor Induk Nasional, implementasi e-Procurement, pengembangan Broadband Wireless Access. Kita harapkan ini jadi pilar-pilar yang menentukan arah pengembangan teknologi kedepannya.

Palapa Ring Project misalnya, kalau itu berhasil bukannya tidak mungkin dalam 3-4 tahun lagi kita akan melihat perusahaan telekomunikasi domestik. Kita juga akan punya Nasional Single Window yang memudahkan berkomunikasi dengan Indonesia, kita bisa memperoleh berbagai macam informasi melalui portal tunggal. Harapannya kemudahan ini bisa memperlancar perdagangan, memudahkan pelaporan, sehingga bisa lebih transparan. Sekarang ini sedang digodog oleh dewan untuk diputuskan.

Kita juga akan bicarakan penentuan suasana komunitas teknologi di Indonesia. Komunitas harus dinamis.

Bagaimana dewan memandang komunitas-komunitas teknologi di Indonesia?

Komunitas teknologi kita belum tertata dengan baik. Masih seperti kerumunan. Kita mengharapkan orang-orang yang sedikit/banyak punya pemahaman terhadap sesuatu, menyatukan diri demi kemajuan teknologi. Tapi, namanya kerumunan ya tidak ada yang mengatur. Kita harusnya punya komunitas teknologi berupa kerumunan yang telah tertata dalam barisan-barisan yang disiplin, masing-masing tahu apa yang harus dilakukan. Berkerumun boleh, tapi harus baris.

Dewan hanya bisa memberi patokan-patokan. Dewan menetapkan kebijakan-kebijakan yang saat ini berkaitan dengan implementasi TI di kalangan pemerintah, agar sesuai dengan nilai produktivitas, efisiensi dan transparansi.

Terkait transparansi implementasi TI di pemerintah. Bagaimana dewan memandang implementasi TI di daerah, terkait adanya otonomi daerah. Bagaimana menjaga transparansinya, mengingat daerah berhak menentukan sendiri implementasi TI-nya?

Menurut saya, otonomi itu membawa konsekuensi kebebasan kepentingan termasuk dalam penggunaan teknologi. Yang penting, kita diberi gambaran besarnya seperti apa. Mereka bebas memilih apa saja. Kita memberi arahan, pilihan itu kalau bisa benar-benar membuahkan solusi.

Banyak persepsi di daerah yang memandang implementasi teknologi sebagai suatu proyek. Sampai-sampai ada yang bikin situs daerah seharga Rp 3 miliar. Bagaiamana dewan menanggapi hal ini?

Ini bisa didekati dengan mengajak komunitas untuk mengembangkan ide di daerah-daerah. Kalau komunitas masih seperti lebah yang berkumpul di suatu tempat, kita akan tetap begini. Kita harus bikin rumah-rumah lebah baru, dan yang menjalani adalah komunitas itu sendiri. Komunitas bisa datang ke suatu daerah, lalu membangun teknologi tertentu yang sesuai di sana. Kita dekati kepala daerahnya, kita jelaskan bahwa mereka punya dananya dan apa mau memakai ide komunitas? Kita perlu mendorong komunitas ini agar mau bermain di situ.

Pemerintah juga, dari segi organisasinya perlu ada perubahan khusus. Organisasi tua kalau dikasih teknologi mahal menjadi organisasi tua yang mahal. Tidak ada manfaatnya, tetap saja dia tua. Perlu dipikirkan bagaimana caranya agar teknologi membawa perubahan dalam struktur. Untuk memanfaatkan teknologi, organisasinya mesti baru. Birokrasinya harus baru juga, proses bisnis di pemerintah harus diubah.

Bagaimana posisi DeTIKNas dibanding lembaga-lembaga TIK lainnya? Bagaimana hirarki kewenangannya?

Dilihat dari strukturnya, ada 10 menteri yang duduk dalam dewan. Kesepuluh menteri ini dipilih dari departemen-departemen yang punya anggaran TI cukup besar, dan sangat butuh TI. Yang menjadi perhatian kita adalah tidak terintegrasinya pengembangan TI di masing-masing departemen. Semua jalan sendiri-sendiri. Jadi inefisiensinya sangat-sangat tinggi.

Dengan adanya dewan, organisasi-organisasi TI yang ada dikerucutkan menjadi dewan yang dipimpin langsung oleh Presiden. Untuk menetapkan kebijakan, kita tinggal bertemu lalu presiden memutuskan. Ini tidak perlu izin kiri-kanan lagi, karena ini dipimpin langsung oleh presiden. Diharapkan ada kesepakatan konseptual yang bisa mengintegrasikan paling tidak 10 menteri yang ada di dewan. Begitu gambaran sederhananya. Kongkritnya akan kita lihat kemudian, karena ini masih sangat baru. (nks/nks)

 

One Response to “detikInet.com: Wawancara Eksklusif Kemal Stamboel (2): Indonesia Perlu ‘Kerumunan’ Teknologi yang Tertata”

  1. Rusmana Says:

    Pak Kemal Cerdas. Terus bangun dan kembangkan TIK Nas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s