Enlightening ourselves

arief gaffar

MOU Indonesia dg Microsoft: Kecewa terhadap hasil pertemuan aktivis OSS dengan Menkominfo Januari 21, 2007

Filed under: Teknologi Informasi — ariefgaffar @ 5:39 am

Tulisan ini masih terkait dengan materi yang ada pada posting teman kita Harry Sufehmi di blog nya tepatnya di http://harry.sufehmi.com/archives/2007-01-19-1376/ dengan judul Catatan Pertemuan dengan Menkominfo

Saya respek pada sikap Menkominfo yang mau melakukan pertemuan secara langsung dan terbuka dengan para aktivis OSS. Namun tentu saja masalah yang utama yang sedang kita argumentasikan adalah ketepatan kebijakan pemberantasan pembajakan software serta MOU antara Indonesia dengan Microsoft yang ditandatangani Menkominfo dan menurut beliau disepakati oleh menteri2 lainnya didalam DeTIKNas

Saya menganggap pertemuan antara teman2 aktivis OSS dengan Menkominfo adalah suatu ajang negosiasi untuk melakukan peninjauan kembali atas kebijakan pemberantasan pembajakan software dan MOU.

Saya gak tahu apakah teman-teman aktivis OSS memiliki tujuan yang sama dengan tujuan diatas.. Namun kalau membaca hasil pertemuan berupa kesepakatan-kesepakatan antara Menkominfo dengan aktivis OSS, tampaknya tujuan teman-teman datang kesana tidak seperti itu..

Sayang sekali.. Menurut saya, kita kehilangan momentum yang baik sekali…
Saya membayangkan kalau saja waktu itu semua teman2 aktivis OSS pada ngumpul bareng & diskusi bikin strategi untuk negosiasi dengan Menkominfo dengan target2 dan skala prioritas yang jelas, mungkin hasilnya akan lebih baik lagi..

Buat saya kemajuan yang didapat dari hasil pertemuan tersebut secara strategis gak terlalu berarti. Menkominfo jalan terus dengan MOU-nya dan teman-teman aktivis kembali lagi sibuk dengan domainnya masing-masing.. Hehehehe…

I really don’t make it personal..

Dulu 1989/1990 pas kuliah saya punya Dosen.. Lupa matakuliahnya.. Namanya kalau gak salah Pak Lepi Tarmidi.. Dia cerita sering bantu departemen perdagangan.. Katanya orang-orang Indonesia itu kalau negosiasi, misal di lingkungan ASEAN, itu payah sekali.. hehe..

Misal kita punya kepentingan yang mau kita jadikan kesepakatan di level ASEAN, maka kita pasti akan mencari dukungan negara lain. Misal ada suatu negara tidak mendukung.

Nah kita kan terkenal generous (yang kadang-kadang gak puguh), begitu negara tersebut punya kepentingan dan minta dukungan Indonesia maka dengan baik hatinya kita ikut dukung tanpa melihat bahwa mereka pernah menolak dukungan kita atau menjadikan dukungan tersebut sebagai komitmen negara tersebut untuk mendukung kepentingan kita berikutnya..

Sorry to say kalau pada saat pertemuan dengan Menkominfo, kelihatannya kemampuan negosiasi temen-temen aktivis OSS gak begitu bagus.

Disamping butuh communication skill, pengalaman, dan yang penting adalah strategi lengkap hasil dari perencanaan yang harusnya udah didefine sebelumnya..

Tambahan:
Silahkan baca opini saya yang lain tentang MOU Indonesia dg Microsof…

 

13 Responses to “MOU Indonesia dg Microsoft: Kecewa terhadap hasil pertemuan aktivis OSS dengan Menkominfo”

  1. fade2blac Says:

    Menurut Anda, hasil yang ‘strategis’ itu seperti apa? Mungkin tidak ditulis di blog-blog tersebut (atau sudah ditulis tapi lewat oleh Anda) bahwa setelah pertemuan itu ada 2 agenda yang akan digulirkan yakni pembentukan help desk nasional dan rekomendasi migrasi di pemerintahan. Apa itu sudah cukup ‘strategis’?

  2. sufehmi Says:

    Iya nih, saya memang tidak ahli untuk soal lobi. Kita butuh lebih banyak lagi lobbyist2 handal untuk OSS..Idealnya seperti Roy Suryo, tapi yang pro OSS, he he. Syukur2 Anda bisa bantu.

  3. dheche Says:

    tujuan utamanya memang bukan minta peninjauan kembali, itu hanya tujuan sekunder. tujuannya, kita minta pemerintah bersikap lebih adil, kalo mereka mau membeli lisensi dg biaya sebesar itu, kita minta pemerintah juga mau mendukung perkembangan oss dg biaya yg sama🙂

  4. Ronsen Says:

    sebenarnya aku lihat MoU itu tujuannya baik, tapi setetah mendengar “alasan-alasan” di belakang tidak satupun mengena di hati kita, saking bodohnya aku hanya bisa tertawa, itulah yang membuat aku bimbang akan keseriusan pemerintah.😉 *sigh*

  5. ryosaeba Says:

    Menurut Anda, hasil yang ’strategis’ itu seperti apa? Mungkin tidak ditulis di blog-blog tersebut (atau sudah ditulis tapi lewat oleh Anda) bahwa setelah pertemuan itu ada 2 agenda yang akan digulirkan yakni pembentukan help desk nasional dan rekomendasi migrasi di pemerintahan. Apa itu sudah cukup ’strategis’?

    ide untuk helpdesk nasional ini sudah digulirkan sewaktu IGOS masih hangat-hangatnya, sekitar tahun 2005. saya ikut dalam beberapa meeting dengan pemerintah. yang belum terjawab adalah soal dana, hal ini tidak ada dalam budget pemerintah (bayangkan budget untuk pendidikan saja di indonesia adalah terendah nomer 3 di asia, cuma saya lupa saya mendengar hal ini dari mana).

    waktu itu sudah ditekankan oleh bos saya bahwa pemerintah seharusnya punya upper hand kalau soal driver printer segala macem, ya bikin saja peraturan bahwa segala rupa periferal komputer harus ada driver linux-nya, toh pemerintah sudah bisa menerapkan aturan bahwa segala rupa benda elektronik yang dijual di indonesia harus menyertakan manual berbahasa indonesia, soal mengikutkan driver merupakan hal yang mirip.

    kembali ke soal helpdesk, ide itu sudah sampai didetailkan minimal akan ada di tiap kecamatan. cuma ya, akhirnya ide tinggal ide, dan IGOS dying down dengan menurunnya publikasi tentang IGOS.

  6. IMW Says:

    Sebetulnya banyak hasil pertemuan yang sangat positif. Sayang belum bisa diberitakan, kalau Anda mengetahui nya, mungkin tidak berkeberatan untuk mencabut pernyataan bahwa pertemuan itu tidak membawa hasil yang menggembirakan dan para aktifis OSS tidak melakukan lobby dengan bak

    Buat Ryo : soal dana “real” juga dibahas

    Pertemuan berlangsung dengan santai dan konstruktif,

  7. ariefgaffar Says:

    Mas fade2blac, dheche, IMW

    Mungkin bisa baca dulu posting saya yang lain tentang MOU itu.. Supaya jelas dulu secara menyeluruh bagaimana perspektif saya melihat masalah tersebut..

    Salam…

  8. dudi Says:

    kalo saya sih sederhana aja mikirnya. ya di liat aja apa ada hasil setelah pertemuan kemarin itu. kalo emang ada hasil atau tindak lanjut dari pertemuan itu berarti pertemuan kemarin itu berhasil, tapi kalo gak ada hasil ya bener kata ryosaeba.

    masalah yang sederhana sebenarnya, tinggal action aja kan?🙂 siapapun yg bikin actionnya ya kita patut hargai usahanya untuk memajukan OSS di Indonesia.

  9. ariefgaffar Says:

    Buat mas ryo,

    Saya pernah iseng bikin simulasi proses pembuatan kebijakan pemberantasan dengan melalui tahapan2 seperti disinggung di tulisan saya di https://ariefgaffar.wordpress.com/2007/01/22/mou-microsoft-dg-indonesia-proses-pengambilan-keputusan-yang-patut-dipertanyakan-kualitasnya/
    dimana saya memasukkan kebijakan tersebut sabegai salah satu alternatif solusi.

    Kebijakan pemerintah tersebut mensyaratkan semua vendor hardware/peripheral yang terkait dengan TI harus menyertakan driver untuk sistem operasi Linux dan menetapkan juga bahwa dalam waktu paling lama 1 tahun harus sudah menyiapkan driver untuk Linux bagi hardware/peripheral yang sudah terlanjur masuk ke Indonesia

    Salam

  10. ariefgaffar Says:

    Buat mas sufehmi..

    Pertama kali saya harus mengucapkan terimakasih ke karena udah buat ringkasan proses pertemuan dengan Menkominfo yang cukup jelas.. Mungkin belum semua hasilnya disampaikan seperti menurut mas IMW..

    Dan mohon maaf kalo ngganggu kalau saya banyak posting yang merefer ke ringkasan hasil pertemuan itu..

    Kalau soal lobbyist mungkin saya juga bukan lobbyist yang handal.. Tapi untuk memulai menjadi lobbyist yang handal barangkali membiasakan dulu membuat perencanaan supaya jelas apa saja yang diinginkan pada saat negosiasi, skala prioritasnya, apa yang bisa kita berikan dan sampai batas mana kita bisa menerima usulan ‘lawan’ negosiasi..

    Udah gitu diatur peran Tim yang maju bernegosiasi.. Setiap anggota tim harus diwajibkan untuk memahami arah dan alur pembicaraan.. Dilarang main saling mendahului.. Karena itu harus diatur siapa yang jadi leader yang kita percaya untuk mengambil keputusan misal take it or leave it.

    Juga diatur jika salah satu teman di Tim punya ide yang baru saja muncul, mekanisme apa yang harus dilakukan? misal berkomunikasi lewat sms (berarti set khusus jenis ringtone nya sebelum pertemuan), minta ijin kepada ‘lawan’ negosiasi untuk diberi kesempatan berbicara sesama anggota tim, atau minta ijin keluar pura-pura mau ke belakang.. atau apalah..

    Begitu pulang, ketemu lagi lakukan evaluasi proses dan hasil negosiasi tadi.. Terus bikin deh strategi kedepannya baik untuk melakukan monitoring dan followup hasil negoosiasi maupun melakukan aksi2 lain yang diperlukan untuk melengkapi pencapaian hasil negosiasi tersebut..

    Selanjutnya, pengalaman lapangan akan membuat Tim negosiasi menjadi lebih matang dan lebih canggih..

    Salam..

  11. R. Iqbal Says:

    Menurut saya yang perlu dilakukan pertama kali oleh kalangan open source adalah ‘menentukan apa yang diinginkan’. Tanpa itu, kita akan sulit menilai apakah hasil pertemuan kemarin cukup strategis untuk mengantarkan kita ke tujuan akhir.

    Sayangnya, karena ‘kalangan open source’ itu sangat banyak serta keinginannya sangat beragam, sangatlah sulit untuk ‘menentukan apa yang diinginkan’. Jadi saya kira wajar kalau pemerintah juga “bingung” harus memenuhi keinginan yang mana dulu.

    Kita belum memiliki wadah yang benar-benar menjadi representasi kalangan open source di Indonesia. Atau memang tidak mungkin ada?🙂

    Orang-orang yang diundang kemarin saya lihat memang orang-orang yang selama ini telah berjuang untuk kemajuan open source. Terima kasih untuk rekan-rekan yang telah hadir dan berjuang di sana.

    Jadi, mari kita satukan langkah. Momen seperti ini jangan justru membuat kita terpecah. Tapi justru harus membuat kita bisa menyamakan persepsi dan langkah ke depan.

    Sukses dan maju terus Open Source Indonesia!

  12. fade2blac Says:

    @Ryo,
    Bahkan sebelum IGOS-pun sudah pernah digulirkan. Dulu jamannya Trustix Merdeka, lalu WinBi, dilanjutkan Komura, saya sudah mengajukan kepada BPPT agar WinBi dikembalikan kepada publik untuk maintenance dan developmentnya. Ada dana untuk itu sukur. Jika tidak ada paling nggak ada endorsment bahwa distro ini dikembalikan ke publik. IMHO, cuma ada dua kendala. Birokrasi dan goodwill.

    Dari situ kesimpulan yang didapat adalah, bahwa model apapun sepanjang itu dipegang oleh pemerintah, tidak akan sustain. Karena perspektifnya adalah proyek. Lain kalau pemerintah sudah mewujudkannya dalam bentuk BUMN. Itu baru bisa diharapkan.

    Jadi idealnya, IMHO, pemerintah melakukan insiatif dalam bentuk proyek. Jika sudah selesai dikembalikan kepada publik. Tentang IGOS sendiri, sudah mengkerdil wacananya karena dianggap sebagai produk (distro, atau ada distro IGOS) bukan gerakan moral.

  13. sufehmi Says:

    Tapi untuk memulai menjadi lobbyist yang handal barangkali membiasakan dulu membuat perencanaan supaya jelas apa saja yang diinginkan pada saat negosiasi, skala prioritasnya,

    Pertama-tama, alhamdulillah sekarang sudah ada AOSI.or.id🙂
    Banyak kegiatan advokasi yang sekarang dijalankan dibawah naungan bendera ini.

    Kedua, dalam soal ini (saya pakai istilah advokasi saja), ternyata TIDAK bisa planning secara mendetail.
    Seringkali, yang sukses itu adalah yang menangkap peluang dengan cepat pada momen yang tepat. Carpe diem.

    Nah, untuk soal ini, kita memang sering kalah. Yaitu kalah sabar – gagal beberapa kali, lalu sudah patah semangat.
    Padahal, kadang suksesnya itu adalah pada usaha yang kesekian kalinya.

    Memang wajar sih, karena para vendor proprietary itu didukung dana besar, dan tim KHUSUS yang memang cuma ini kerjanya. Salah satu vendor saya dengar tim lobbyistnya sebesar 50 orang.
    Khusus mengurus ini saja.

    Kita? Masih bisa dihitung pakai jari — dan semuanya sudah ada pekerjaan full-time🙂

    Nah, mudah-mudahan situasi dan konteksnya jadi jelas.
    Lalu, apakah berarti kita akan menyerah ?

    Kalau saya sih, ogah🙂
    Kalau kita kalah tenaga, ya berarti main otak🙂 Play smart, he he

    Selain itu, juga masih ada banyak orang baik kok. Yang bisa memahami urgensi dan manfaat dari advokasi F/OSS.
    Sepanjang perjalanan, makin banyak orang2 ini yang kita temukan.

    Kita buat jaringan, dan lalu kita manfaatkan semaksimal mungkin.
    Alhasil, walaupun jumlah kita mungkin cuma sedikit, tapi kekuatan jaringan ini kemudian melipat gandakan efektifitasnya.

    Itu yang sedang saya saksikan pada saat ini.
    Dan mudah-mudahan bisa terus berkembang secara eksponensial seperti demikian🙂

    Lebih detail lagi, call saya saja. Ceritanya terlalu panjang😀 dan ada berbagai hal yang bersifat strategis / belum bisa dibeberkan di ranah publik.

    Thanks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s