Enlightening ourselves

arief gaffar

MOU Indonesia dg Microsoft : Proses pengambilan keputusan yang patut dipertanyakan kualitasnya.. Januari 22, 2007

Filed under: Audit,Teknologi Informasi — ariefgaffar @ 2:05 am

Tulisan ini masih terkait dengan ringkasan hasil pertemuan teman2 aktivis OSS dengan Menkominfo seperti yang diceritakan oleh teman kita Harry Sufehmi di blog nya tepatnya di http://harry.sufehmi.com/archives/2007-01-19-1376/ dengan judul Catatan Pertemuan dengan Menkominfo

Dari apa yang diceritakan, saya menangkap indikasi betapa lemahnya proses pengambilan keputusan DeTIKNas yang dalam hal ini diketuai oleh MenKomInfo..

Mari sama-sama kita perhatikan kesimpulan hasil pertemuan tersebut..

Ternyata, MoU ini adalah hasil kesepakatan dewan TIK nasional, yang beranggotakan antara lain menteri-menteri lainnya juga; seperti Menko Polkam, Perdagangan, Ekonomi, Dalam negeri, dll. Pada suatu pertemuannya, diangkat issue HAKI, dimana Indonesia tercatat sebagai negara pembajak terbesar di dunia. Hal ini berpengaruh ke banyak hal lainnya, seperti perdagangan, politik, dan lain-lain; dimana posisi Indonesia di dunia menjadi dipersulit karena ini.

Sampai cerita ini, sebetulnya kita bisa bilang itu tahapan identifikasi masalah. Cuma itu dia, kita harus jernih menghubungkan keterkaitan masalah yang satu dengan masalah yang lain dalam pengertian sebab-akibat.. Gunanya untuk mengetahui sebab-sebab utama…

Maka disepakati untuk melakukan suatu tindakan untuk meningkatkan rating Indonesia, yaitu dengan mengadakan MoU dengan Microsoft – sebagai vendor yang produknya paling banyak dibajak.

Kesepakatan untuk meningkatkan rating Indonesia, itu masih oke.. cuma caranya aneh aja kok ‘tiba-tiba’ dengan mengadakan MoU dengan Microsoft – sebagai vendor yang produknya paling banyak dibajak.

Kenapa kok aneh? Tampaknya DeTIKNas (diketuai Menkominfo) tidak melakukan analisa hubungan antar sebab untuk memahami akar permasalahan dengan tepat kenapa Indonesia menjadi salah satu negara pembajak terbesar di dunia..

Hal itu berguna supaya kita gak terjebak dalam pengobatan syndrom tapi bukan pengobatan terhadap penyebabnya. Suhu tubuh orang sakit yang tinggi adalah syndrom, penyakitnya bisa beragam.. bisa amandel, demam dan lain-lain termasuk penyakit berat..

Bahasa kerennya melakukan root cause analysis. Tools nya banyak yang bisa dipakai..

Kalau sudah menemukan sekumpulan sebab utama, yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan semua alternatif solusi untuk ‘mengobati’ sebab.. Karena jika sebab sudah dihilangkan maka penyakitnya akan berangsur-angsur menghilang..

Kalimat sebagai vendor yang produknya paling banyak dibajak mengesankan seolah-olah menjadi dasar kenapa MOU dibuat.. Ketika melakukan root cause analysis kita pasti akan menemukan fakta bahwa software Microsoft (dalam hal ini sistem operasi MS Windows dan perangkat lunak kerja perkantoran MS Office).

“Software Microsoft yang sangat banyak dibajak” adalah masalah dan menjadi salah satu penyebab masalah kenapa “Indonesia termasuk negara teratas dalam membajak software”.. Tapi kita bisa telusuri sebab adanya “masalah software Microsoft paling banyak dibajak”..

Sekarang kita perhatikan kalimat berikut:
(Non-binding) MoU ini kemudian sedianya akan di follow up dengan kontrak pembelian lisensi software Microsoft, dimana dengan ini maka otomatis seluruh komputer pemerintah dianggap telah berlisensi dan legal menggunakan software Microsoft.

Pembelian lisensi software Microsoft pasti merupakan salah satu alternatif solusi yang bisa menyelesaikan sebab utama masalah Indonesia sebagai negara utama pembajak software tapi pasti bukan satu-satunya..

Tapi yang kita perlu pastikan adalah apakah DeTIKNas (dalam hal ini Menkominfo) telah melakukan cost-benefit analysis yang benar untuk membandingkan semua alternatif solusi dengan semua sebab utama yang telah diidentifikasi?

Kalau sebab utama tidak pernah diidentifikasi dengan tepat dan lengkap melalui root cause analysis yang berkualitas yah pastilah gak ada garansi kalau solusinya akan menjadi obat yang tepat malah dalam hal ini berpotensi memboroskan uang rakyat saja.

Dan, dengan solusi berupa pembelian lisensi software Microsoft, saya berpendapat kalau tidak ada mekanisme cost-benefit analysis yang berkualitas yang dilakukan Menkominfo/DeTIKNas.

Dengan jumlah komputer pemerintah sebanyak sekitar 500.000 buah, maka nilai yang dibahas di MoU, menurut pendapat dewan TIK nasional, sudah termasuk cukup baik.

Angka 500rb itu datang dari mana? Saya gak yakin angka itu tepat.. Dan pada saatnya nanti kalau ternyata memang jadi dibeli lisensinya sebanyak itu, pasti angkanya juga sudah berubah lagi.. ya nggak?

Harusnya menghitung berapa banyak jumlah komputer yang berisi software Microsoft bajakan itu masuk dalam tahapan identifikasi masalah.. Nah kalau angka 500rb itu gak tepat berarti kita bisa bayangkan dong kualitas pekerjaan identifikasi masalahnya..

Beberapa alasan MoU versus Migrasi OSS yang diajukan Menkominfo, yang kemudian dianggap mengada-ada oleh banyak pihak, ternyata adalah karena kekurangan informasi. Pada forum kemarin berbagai hal tersebut telah diklarifikasi.

Nah kan ketahuan betapa lemahnya tahapan pemahaman dan identifikasi masalah yang dikerjakan Menkominfo/DeTIKNas..!

Menkominfo menyatakan bahwa tidak masalah sama sekali jika MoU dibatalkan. Namun kemudian, apa solusi alternatifnya (untuk memperbaiki rating Indonesia di bidang pembajakan HAKI) ? Apakah komunitas siap untuk membantu pemerintah Go Legal ?

Nah kan ketahuan lagi kalo tahapan identifikasi semua alternatif solusi nya gak dikerjakan secara berkualitas! Masih nanya-nanya gitu.. hehehe..

Kalau identifikasi semua alternatif solusinya aja lemah kayak gitu, kemungkinan besar cost-benefit analysis nya juga gak berkualitas hehehe..

Closing…

Jadi untuk memastikan analisa saya tidak tepat, sebaiknyakita sarankan BPK untuk melakukan management audit atas kebijakan Pemberantasan Pembajakan Software Pemerintah terutama pada DeTIKNas dan DepKomInfo..

Silahkan baca posting saya tentang perlunya management audit tersebut di:
https://ariefgaffar.wordpress.com/2007/01/21/mou-indonesia-dengan-microsoft-kita-butuh-adanya-management-audit-terhadap-kebijakan-yang-mendasari-mou/

Semoga kita bisa lebih cepat menuju negara yang modern yang bercirikan salahsatunya transparan dan accountable.. yang berarti menuntut adanya pemerintahan yang memiliki proses kerja yang berkualitas dan senantiasa melakukannya… Amiiinn..

 

One Response to “MOU Indonesia dg Microsoft : Proses pengambilan keputusan yang patut dipertanyakan kualitasnya..”

  1. […] mayor player Ditulis pada 01 – Umum oleh ariefgaffar on the Januari 23rd, 2007 Habis posting MOU Indonesia dg Microsoft: Proses pengambilan keputusan yang patut dipertanyakan kualitasnya.. terus terang saya kepikiran bagaimana sih cara kerja DeTIKNas… Ada yang tahu gak? Bisa di […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s