Enlightening ourselves

arief gaffar

Banjir, Business Continuity dan Disaster Recovery, serta Audit Februari 8, 2007

Filed under: Banjir,Musibah,Risk,Teknologi Informasi — ariefgaffar @ 2:46 am

Banjir yang sekarang ini sedang kita alami memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga.

Banyak yang melakukan perhitungan kerugian yang diakibatkan banjir. Ada yang mendapatkan angka 4,1 milyar ada juga yang menghitung lebih dari itu

Ini sedikit contoh kerusakan diluar jumlah kerusakan yang dialami rumah saudara2 kita yang terkena musibah banjir.

Sentral telkom (Gatsu Jakarta) terkena pemadaman listrik yang mengakibatkan beberapa ISP pelanggan fasilitas Telkom tidak bisa memberikan layanan akses ke internet.

  • Lumpuhnya dua unit trunk (sentral toll untuk hubungan SLJJ atau hubungan dengan operator lain) STO Semanggi II, yang merupakan sasaran transit trafik percakapan antarkota. mengakibatkan pengguna telepon Jakarta sulit menghubungi telepon di luar Jakarta, dan sebaliknya.
  • Telkom pun memutuskan untuk memberi kompensasi atas gangguan yang diderita 19.000 satuan sambungan layanan (SSL) pelanggan Speedy yg putus koneksi (perhubungan putus/perpu) lebih dari tiga hari. Pelanggan Speedy Limited diberikan tambahan kuota sebesar 10 Mb untuk pemakaian (usage) selama Februari 2007, sedang pelanggan speedy unlimited diberikan keringanan abonemen tagihan bulan Maret 2007 sebesar lima persen. (lihat Detikinet)
  • Indosat mengalami kenaikan trafik sekitar 250% akibat banjir di Jakarta, namun kehilangan potensi pendapatan akibat putusnya sentral telepon milik Telkom. Akibatnya siapa lagi yang bisa dihubungi pelanggan Indosat.. ya ke sesama jaringan Indosat saja. (lihat detikinet)
  • Telkom membebaskan biaya abonemen pemakaian februari 2007 semua pelanggan Jakarta yang mengalami gangguan telepon tiga hari berturut-turut akibat banjir untuk nomor-nomor dengan kode awalan (prefiks) 520, 521, 522, 523, 524, 525, 526, 527, 52880, 5289, 5290, 5291, 5292, 5293, 5296, 52970, 52971, 52972, 52973, 52974, 52976, 5299, 250, 252, 253, 2550, 25552, 25575, 25576, 25578, 2581, 2590, 2591, dan 2592.

Pertanyaan yang mengusik fikiran saya adalah apakah mereka memiliki Business Continuity Plan dan Disaster Recovery Plan?

Rasanya gak mungkin perusahaan sekelas Telkom tidak memiliki tidak memiliki BCP/DRP… Pertanyaan berikutnya adalah tentang kualitas BCP/DRP itu sendiri..

Sebagai suatu bentuk dokumen, mungkin BCP/DRP itu dikemas dengan cantik, indah, berwarna, menggunakan kertas berkualitas tinggi dan teknik pencetakan yang canggih.

Namun apakah isinya berkualitas? apakah pernah diujicoba ketika pertamakali dibuat dan diuji lagi secara periodik? Apakah setiap anggota tim BCP/DRP benar-benar memahami perannya, peran rekan yang terkait dengannya ketika terjadi disaster? Apakah terdapat alokasi resources yang sejak awal harus sudah disediakan sebelum terjadi disaster? dan seterusnya..

Lalu apakah kejadianbanjir yang sekarang tidak membuat manajemen mengambil inisiatif untuk menyempurnakan dan memutakhirkan BCP/DRP yang dimiliki?

Seharusnya pihak terkait yang berwenang mengambil inisiatif untuk melakukan audit atas BCP dan DRP BUMN, BUMD, Pemda untuk memastikan bahwa penanganan Disaster dimasa datang dapat dilakukan dengan jauh lebih baik lagi..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s